30 Desember 2007

Tentang "Rikmadenda"

Pada tahun 1995 saya membaca novel “Rikmadenda Mencari Tuhan”, pinjam dari teman se-asrama. Rikmadenda Mencari Tuhan adalah sebuah lakon wayang carangan berdasarkan ciptaan dalang ABYOR yang ditulis oleh Ajjip Rosidi dengan beberapa lebih banyak memberikan kesempatan bagi dalang untuk mengungkapkan masalah-masalah aktual yang terjadi di dalam masyarakat.

Rikmadenda adalah pewaris tunggal tahta kerajaan. Tapi sebelum menjadi raja, sang ayah meminta Rikmadenda untuk mencari ilmu sejati, yaitu ilmu ketuhanan agar kelak bila dia menjadi raja tidak melakukan penyimpangan. Dengan alur cerita khas pewayangan yg penuh dengan kata2 kiasan, ada banyak hal yg bisa diambil dari alur ceritanya.

Menarik sekali untuk dibaca terutama pada babak Pitungwiung dan Amartapura yaitu dialog antara Batara Kresna dengan tokoh Rikmadenda tentang hakekat Tuhan. Bagaimana Rikmadenda mencari Tuhan? Dia bertanya ke sana ke mari, termasuk kepada para dewa, untuk memenuhi kehausan pemahaman akan hakekat kehidupan. Dalam pencariannya, rikmadenda bahkan mengobrak-abrik kahyangan karena para dewa tidak bisa menjawab pertanyaan tentang Sang Pencipta dan Pemberi Kehidupan. Jawaban para dewa dianggap ngawur dan semakin membingungkannya. Batara Guru lari, Sang Hyang Wenang juga menyerah.

Di tempat kediaman Sang Hyang Tunggal, Rikmadenda bertemu dengan Kresna. Terjadilah dialog yang menarik antara Kresna dan Rikmadenda tentang berbagai hal: Tuhan, kehidupan, kebenaran dsb. Hampir semua pertanyaan tentang Tuhan tertuang di sini, dan cukup menggugah kesadaran akan ketuhanan. Salah satu percakapan Kresna dengan Rikmadenda:

Batara Kresna : Manusia memiliki kebenarannya masing2, dan mereka berpegang teguh pada kebenaran itu.

Rikmadenda : Jadi kebenaran itu banyak?

Batara Kresna : Tidak, kebenaran itu tunggal.


Kisah wayang carangan karya alm. dalang Abyor yg dikembangkan oleh Ajip Rosidi ini setara dengan kisah2 wayang golek yg biasa dibawakan oleh Asep Sunarya. Untuk kelas cerpen, mungkin cuma cerpen2 karya Danarto yg mengimbangi buku ini.

Sejak itulah Rikmadenda menjadi salah satu contoh peziarah kehidupan bagi saya. Buku harian saya diberi nama “Rikmadenda”; Rikmadenda juga menjadi sahabat dan mitra dialog imajiner dalam permenungan-permenungan saya. Alamat blog ini juga menggunakan nama “rikmadenda”. Dalam alamat e-mail yang saya gunakan, “rikmadendaz”, saya menambahkan huruf “z” setelah huruf terakhir, yaitu “a”. Ini mengungkapkan bahwa peziarahan permenungan tentang awal kehidupan juga berarti peziarahan permenungan tentang akhir kehidupan, karena awal dan akhir kehidupan, asal dan tujuan kehidupan itu sama, Tuhan. Ya, ALPHA dan OMEGA, itulah visi hidup manusia.

Sedikit info tentang “Rikmadenda” ini didukung oleh ulasan yang ada di:

http://mhinoel.multiply.com/reviews/item/8

http://antasena.blogspot.com/2003_12_01_archive.html

Tidak ada komentar: